Pengertian dan Hakikat Jujur Menurut Islam

Pengertian
dan Hakikat Jujur Menurut Islam
Jujur dapat
pula diartikan kehati-hatian diri seseorang dalam memegang amanah yang telah
dipercayakan oleh orang lain kepada dirinya. Karena salah satu sifat terpenting
yang harus dimiliki bagi orang yang akan diberi amanah adalah orang-orang yang memiliki
kejujuran. Karena kejujuran merupakan sifat luhur yang harus dimiliki
manusia. Orang yang memiliki kepribadian yang jujur, masuk dalam kategori orang
yang pantas diberi amanah karena orang semacam ini memegang teguh terhadap
setiap apa yang ia yakini dan menjalankan segala sesuatu dengan sungguh-sungguh
dan penuh tanggung jawab.
Karena orang
yang jujur umumnya akan bertanggung jawab penuh akan segala yang diberikan atau
dibebankan kepadanya maka pasti ia akan berusaha sekuat tenaga untuk
menjalankan kewajibannya tersebut dengan sungguh-sungguh. Selain itu orang yang
dalam lubuk hatinya mengalir darah kejujuran maka ia tidak akan sanggup
menyakiti atau melukai perasaan orang lain. Dan karena itulah orang semacam ini
pantas diberi amanah, dengan kejujurannya ia tidak akan sanggup mengecewakan
orang yang telah memberinya amanah tentukan bukan amanah yang menyesatkan.
Pengertian dan Hakikat Jujur Menurut Islam
Kejujuran adalah perhiasan orang berbudi mulia dan orang yang
berilmu. Oleh sebab itu, sifat jujur sangat dianjurkan untuk dimiliki setiap
umat Rasulullah saw. Hal ini sesuai dengan firman Allah:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak
menerimanya.” (Q.S. an-Nisa: 58).
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghianati Allah dan Rasul-Nya
dan janganlah kamu menghianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang
kamu mengetahui.” (Q.S. al-Anfal: 27).
Dari dua ayat tersebut didapat pemahaman bahwa manusia, selain dapat berlaku
tidak jujur terhadap dirinya dan orang lain, adakalanya berlaku tidak jujur
juga kepada Allah dan Rasul-Nya. Maksud dari ketidakjujuran kepada Allah dan
Rasul-Nya adalah tidak memenuhi perintah mereka. Dengan demikian, sudah jelas
bahwa kejujuran dalam memelihara amanah merupakan salah satu perintah Allah dan
dipandang sebagai salah satu kebajikan bagi orang yang beriman.
Orang yang mempunyai sifat jujur akan dikagumi dan dihormati banyak orang.
Karena orang yang jujur selalu dipercaya orang untuk mengerjakan suatu yang
penting. Hal ini disebabkan orang yang memberi kepercayaan tersebut akan merasa
aman dan tenang.
Jujur adalah sikap yang tidak mudah untuk dilakukan jika hati tidak benar-benar
bersih. Namun sayangnya sifat yang luhur ini belakangan sangat jarang kita
temui, kejujuran sekarang ini menjadi barang langka. Saat ini kita membutuhkan
teladan yang jujur, teladan yang bisa diberi amanah umat dan menjalankan amanah
yang diberikan dengan jujur dan sebaik-baiknya. Dan teladan yang paling baik,
yang patut dicontoh kejujurannya adalah manusia paling utama yaitu Rasulullah
saw. Kejujuran adalah perhiasan Rasulullah saw. dan orang-orang yang berilmu
Dalil Kejujuran Dalam Islam
“Hendaklah kamu selalu berbuat jujur, sebab kejujuran membimbing ke arah
kebajikan, dan kebajikan membimbing ke arah surga. Tiada henti-hentinya
seseorang berbuat jujur dan bersungguh-sungguh dalam melakukan kejujuran
sehingga dia ditulis di sisi Allah sebagai orang jujur. Dan hindarilah
perbuatan dusta. Sebab dusta membimbing ke arah kejelekan. Dan kejelekan
membimbing ke arah neraka. Tiada henti-hentinya seseorang berbuat dusta dan
bersungguh-sungguh dalam melakukan dusta sehingga dia ditulis di sisi Allah
sebagai pendusta.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits lain, Ali bin Abi Thalib berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda:
“Sesungguhnya di surga ada kamar-kamar yang terlihat bagian luarnya dari
dalamnya, dan bagian dalamnya dari luarnya.” Kemudian seorang dusun berdiri dan
berkata, “Ya Rasulallah, bagi siapakah kamar-kamar itu?” Rasulullah Saw.
menjawab: “Bagi orang yang baik tutur katanya dan suka memberi makan kepada
orang lain, terus berpuasa serta shalat di waktu malam ketika orang-orang
sedang tidur.” (H.R. Tirmidzi)
Berbicara kejujuran (dalam bahasa arab disebut sebagai Ash-Shidqun),
kejujuran terbagi menjadi 5 macam, yaitu:
1. Shidq Al-Qalbi (jujur dalam berniat).
Hati adalah poros anggota badan. Hati adalah barometer kehidupan. Hati adalah
sumber dari seluruh gerak langkah manusia. Jika hatinya bersih, maka seluruh
perilakunya akan mendatangkan manfaat. Tapi jika hatinya keruh, maka seluruh
perilakunya akan mendatangkan bencana. Rasulullah Saw. bersabda, “Ingatlah,
dalam tubuh itu ada segumpal daging. Bila ia baik, akan baiklah seluruh tubuh.
Dan bila ia rusak, rusaklah ia seluruhnya. Itulah qalbu (hati).” (H.R. Bukhari).
Itulah hati dan kejujuran yang tertanam dalam hati akan membuahkan
ketentraman, sebagaimana firman-Nya,
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan
mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi
tentram.” (Q.S. Ar-Ra’d [13]: 28)
2. Shidq Al-Hadits (jujur saat berucap).
Jujur saat berkata adalah harga yang begitu mahal untuk mencapai kepercayaan
orang lain. Orang yang dalam hidupnya selalu berkata jujur, maka dirinya akan
dipercaya seumur hidup. Tetapi sebaliknya, jika sekali dusta, maka tak akan ada
orang yang percaya padanya. Orang yang selalu berkata jujur, bukan hanya akan
dihormati oleh manusia, tetapi juga akan dihormati oleh Allah Swt. sebagaimana
firman-Nya,
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah
perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan
mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya,
maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (Q.S. Al-Ahzab
[33]: 70-71)
Hidup dalam naungan kejujuran akan terasa nikmat dibandingkan hidup penuh
dengan dusta. Rasulullah Saw. bahkan mengkatagorikan munafik kepada orang-orang
yang selalu berkata dusta, sebagaimana sabdanya, “Tanda-tanda orang munafik itu
ada tiga; bila berucap dusta, kala berjanji ingkar dan saat dipercaya khianat.”
(H.R. Bukhari dan Muslim)
3. Shidq Al-‘Amal (jujur kala berbuat).
Amal adalah hal terpenting untuk meraih posisi yang paling mulia di surga. Oleh
karena itu, kita harus selalu mengikhlaskan setiap amal yang kita lakukan.
Dalam berdakwah pun, kita harus menyesuaikan antara ungkapan yang kita
sampaikan kepada umat dengan amal yang kita perbuat. Jangan sampai yang kita
sampaikan kepada umat tidak sesuai dengan amal yang kita lakukan sebab Allah
Swt. sangat membenci orang-orang yang banyak berbicara tetapi sedikit beramal.
“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu
perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada
kamu kerjakan.” (Q.S. Ash-Shaff [61]: 2-3)
Jadi, yang harus kita lakukan adalah banyak bicara dan juga beramal agar
kita bisa meraih kenikmatan surga.
4. Shidq Al-Wa’d (jujur bila berjanji).
Janji membuat diri kita selalu berharap. Janji yang benar membuat kita bahagia.
Janji palsu membuat kita selalu was-was. Maka janganlah memperbanyak janji
(namun tidak ditepati) karena Allah Swt. sangat membenci orang-orang yang
selalu mengingkari janji sebagaimana dalam firman-Nya,
[Image: 16_91.png]
“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah
kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu
telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpah itu).
Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (Q.S. An-Nahl [16]: 91)
“…Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan
jawabnya.” (Q.S. Al-Israa [17]: 34)
5. Shidq Al-Haal (jujur dalam kenyataan).
Orang mukmin hidupnya selalu berada di atas kenyataan. Dia tidak akan menampilkan
sesuatu yang bukan dirinya. Dia tidak pernah memaksa orang lain untuk masuk ke
dalam jiwanya. Dengan kata lain, seorang mukmin tidak hidup berada di bawah
bayang-bayang orang lain. Artinya, kita harus hidup sesuai dengan keadaan diri
kita sendiri. Dengan bahasa yang sederhana, Rasulullah Saw. mengingatkan kita
dengan ungkapan, “Orang yang merasa kenyang dengan apa yang tidak diterimanya
sama seperti orang memakai dua pakaian palsu.” (H.R. Muslim). Dari ungkapan
ini, Rasulullah Saw. menganjurkan kepada umatnya untuk selalu hidup di atas
kenyataan dan bukan hidup dalam dunia yang semu.
Tanamkan Sifat Jujur Dalam Kehidupan
Allah s.w.t telah memerintahkan kepada semua hambanya supaya menanam sifat
jujur di dalam diri masing-masing dengan menjadikan Rasulullah s.a.w sebagai
“role model”.
Seperti mana yang kita sedia maklum, para nabi dan rasul sentiasa berlaku
jujur dan berkata benar sesuai dengan tugas mereka untuk menyampaikan dakwah
kepada seluruh umat manusia.
Bersifat jujur kepada Allah dan rasul merupakan perkara yang paling utama
untuk memperoleh keberkatan hidup di dunia dan akhirat. Jujur kepada Allah dan
Rasul bermaksud mereka beriman kepada Allah dan Rasul dengan sebenar-benar
iman.Segala amal kebajikan dan ibadah mereka adalah ikhlas kerana Allah Taala.
Orang yang jujur kepada Allah dan rasul lazimnya berasa malu untuk meninggalkan
perintah Allah serta melakukan kemungkaran.
Seperti sabda Rasulullah s.a.w yang bermaksud : “Hendaklah kamu beribadah
kepada Allah seolah-olah kamu melihatnya. Dan ingatlah sekiranya kamu tidak
melihatnya, Dia pasti melihat kamu.” (Riwayat Muslim)
Seterusnya, kita haruslah bersikap jujur kepada diri kita sendiri. Sama ada
kita sedar atau tidak, melaksanakan perintah Allah seperti solat, menutup
aurat, berpuasa dan sebagainya lebih mudah dilaksanakan berbanding bersikap
jujur.
Kadangkala kita berasa amat sukar untuk mengakui kesalahan yang telah kita
lakukan lebih-lebih lagi jika pengakuan tersebut akan mengakibatkan hukuman
yang berat.
Kita juga sering mendengar orang di sekeliling kita berkata, manusia mungkin
mampu membohongi orang lain,tetapi mereka tidak mampu untuk membohongi diri
sendiri.
Sesungguhnya Allah s.w.t telah menciptakan semua anggota badan kita untuk
berlaku jujur kecuali lidah. Ketahuilah bahawa lidah itu lebih tajam dari mata
pedang. Oleh yang demikian kita haruslah mendidik lidah kita supaya sentiasa
berkata benar.
Menurut Ustaz Muneer Mohamed Farid al-Hafiz yang merupakan seorang peguam
yang berpengalaman luas dalam mengendalikan kes-kes di mahkamah, ketika saksi
menjawab pertanyaan peguam, jawapan tersebut bukan dinilai melalui percakapan
semata-mata. Gerak-geri badan, tangan, kaki dan pandangan mata turut diambil
kira. Kebiasaannya, saksi yang berbohong akan berasa kurang senang ketika
menjawab soalan yang diajukan kepada mereka.
Di mahkamah dunia, mungkin kita boleh bercakap bohong atau menghafal skrip
jawapan untuk menegakkan benang yang basah menggunakan lidah. Namun, tidak
semua jawapan akan “dipersetujui” oleh anggota badan kita yang
lain.
Tetapi di mahkamah Mahsyar kelak, bukan lidah kita yang akan menjawab segala
persoalan yang diajukan. Bahkan semua anggota tangan dan kaki yang akan mengambil
alih tugas menjawab semua soalan.
Allah s.w.t telah berfirman di dalam surah Yasin ayat 65 yang bermaksud:
“Maka pada hari ini kami tutupkan mulut mereka, dan memberi peluang kepada
tangan-tangan mereka memberitahu kami kesalahan masing-masing, dan kaki mereka
pula menjadi saksi terhadap apa yang telah mereka usahakan.”
Kemudian, kita mesti bersikap jujur kepada orang lain. Kejujuran memainkan
peranan yang amat besar dalam pembangunan umat dan kebahagiaan sesebuah
masyarakat. Cuba anda bayangkan jika kita berhadapan dengan orang-orang yang
tidak jujur, apabila melakukan urus niaga kita ditipu, apabila bejanji acap
kali dimungkiri dan apabila diamanahkan dengan sesuatu pasti dikhianati.
Komentar
Posting Komentar