Persepektif Teori Psikologi Perkembangan
Persepektif Teori Psikologi Perkembangan
Teori-teori
perkembangan merupakanbkumpulan fakta yang diikat oleh suatu hukum tertentu dan
menjadi pandangan yang berlaku umum. Menurut Miler (1998), suatu teori harus
memenuhi syarat-syarat formal, yaitu sebagai berikut:
1. logis atau konsisten, artinya tidak ada
pernyataan-pernyataan yang saling bertentangan;
2. Secara empiris harus masuk akal, artinya
tidak ada pengamatan ilmiah yang saling berlawanan.
3. Dapat diuji dan bersifat hemat, artinya
sedapat mungkin terdiri atas beberapa konstruk, proposisi.
4. Mempunyai cakupan ilmu yang cukup luas
dan mampu mengintegrasikan penelitian terdahulu.
Teori-teori psikologi perkembangan yang dapat
membantu memahami perkembangan manusia, khususnya tingkah laku manusia terdiri
atas beberapa perspeketif berikut:
1. Perspektif psikoanalisis
Psikoanalisis
adalah suatu pandangan tentang keamanusiaan yang mengutamakan kekuatan ketidak
sadaran yang dapat mendorong tingkah laku manusia. Psikoanalisis adalah metode
penyembuhan yang diperkenalkan Sigmund Freud agar pasien mempunyai pengertian
yang mendalam mengenai konflik-konflik yang tidak disadari, yang bersumber dari
masa kecilnya yang mempengaruhi tingkah laku dan emsi saat ini.
a. Pendekatan Dinamika
Dalam teorinya, Sigmund Freud
menggunakan hukum/prinsip alam, yaitu:
1) Hukum konservasi energy,
2) Prinsip kesenangan,
3) Prinsip realitas.
b. Pendekatan Struktural
Pendekatan ini
digunakan untuk mengkaji struktur psikologi yang mengalirkan dorongan-dorongan
psikis yang ada (struktur berfungsi sebagai mediator antar dorongan dan tingkah
laku.
Menurut Sigmun
Freud, ada tiga struktur utama yang mengalirkan dorongan-dorongan psikis, yaitu
sebagai berikut:
1) Id, merupakan dorongan dan motif yang
tidak disadari (telah ada sejak lahir) dan bertindak atas dasar prinsip
kesenangan, berusaha untuk dipuaskan secara langsung dan sesegera mungkin.
2) Ego, merupakan mekanisme untuk
beradaptasi terhadap realitas. Ego biasanya menunda dorongan psikis yang
berasal dari id sampai ada jalan yang dapat dieterima oleh realitas. Ego juga
bertindak sebagai mediator antara id dan super ego.
3) Superego, dapat dianalogikan dengan hati
nurani. Selain itu superego mempunyai nilai-nilai yang disampaikan orang tua
ataupun masyarakat lainnya.
c. Mekanisme Pertahanan Diri
Bahaya yang
datang dari id dan lingkungan dapat menimbulkan kecemasan. Oleh karena itu, ego
harus mamou mengatasi secara realitas dengan menggunakan kemampuan dan
keterampilan pemecahan masalah yang dimiliki. Apabila bahaya itu berlebihan dan
mengancam ego, hal yang perlu dilakukan adalah mekanisme pertahanan diri, yang
mencakup:
1) Regresi,
2) Proyeksi,
3) Reaksi Formasi,
4) Represi,
5) Sublimasi,
6) Fiksasi,
7) Pendekatan Topografi
Menurut Sigmund Freud, dalam pikiran manusia
terdapat tiga kawasan, yaitu kawasan ketidak sadaran, kawasan pra-kesadaraan,
dan kawasan kesadaran. Ketidak sadaran adalah suatu kawasan yang luas, tetapi
tidak diketahui, sedangkan pra-kesadaran adalah kawasan yang dikenal.
d. Pendekatan Bertahap
Freud
berpendapat bahwa dalam perkembangan manusia terdapat dua hal pokok berikut:
1) Tahun-tahun awal kehidupan berperan
penting bagi pembentuk kepribadian.
2) Perkembangan manusia meliputi
tahap-tahap psikoseksual:
a) Oral (sejak lahir hingga 1 tahun),
b) Anal (usia 1-3 tahun),
c) Phalik (usia 3-5 tahun),
d) Laten (usia 5-awal pubertas)
e) Genital (masa remaja)
Perspektif Psikososial (Erik Ericson)
a. Perkembangan Psikososial
Seperti halnya
Freud, E. Erikson mengatakan bahwa perkembangan manusia terdiri dari beberapa
tahap. Oleh karena itu, setiap anak harus mampu mengatasi krisis atau konflik
yang terjadi pada setiap tahap agar mampu menghadapi berbagai krisis yang akan
dijumpai dalam kehidupan mendatang. Dalam pandangannya, Erikson mengemukakan
sebagai berikut:[1]
1) Anak adalah makhluk yang aktif dan
penjelajah yang adaptif, yang selalu berupaya untuk mengonrol lingkungannya.
Anak bukanlah makhluk pasif yang mau begitu saja dibentuk oleh kedua orang
tuanya.
2) Ego berfungsi untuk memahami realitas
dunia sosial agar agar individu yang bersangkutan mampu menyesuaikan diri dan
dapat menampilkan pola perkembangan pribadi yang normal.
3) Secara mendasar, manusia adalah makhluk
yag irasional, pikiran, perasaan dan tindakannya sebagian besar dikontrol oleh
ego.
Ketiga pandangan inilah yang membedakannya dengan
Freud tentang manusia. Selanjutnya, Erikson mengemukakan, lebih baik
memperhatikan perkembangan psikososial sepanjang rentang kehidupan daripada
perkembangan psikoseksual yang dasarnya biologis dan hanya sampai masa remaja.
Ia juga menyatakan bahwa perkembangan emosi jauh lebih penting bagi kehidupan
seseorang daripada perkembangan seksual.
b. Delapan Tahap Perkembangan psikososial
Seluruh rentang kehidupan manusia terdiri atas
delapan tahap dan selama hidupnya manusia akan menghadapi delapan macam
krisis/konflik. Pada umumya setiap krisis lebih bersifat sosial dan mempunyai
implikasi yang sangat nyata terhadap masa depan individu yang bersangkutan.
Kedelapan tahap tersebut sebagai berikut:
1) Tahap 1: baisic trust versus mistrust (+sejak lahir sampai umur 1 tahun)
2) Tahap 2: autonomy versus shame doubt (+pada usia 2 tahun sampai 3 tahun)
3) Tahap 3: initiative versus guilt (+pada usia 4 tahun sampai 5 tahun)
4) Tahap 4: industry versus inferiority (+pada usia 6 tahun sampai pubertas)
5) Tahap 5: identity and repudiation versus identity diffusion (masa remaja)
6) Tahap 6: intimacy and solidarity versus isolation (masa muda)
7) Tahap 7: generativity versus stagnation and self absorption (masa dewasa)
8) Tahap 8: integry versus despair (masa tua)
c. Prinsip
Epigenetik
Prinsip
epigenetik, yaitu prinsip yang didasarkan pada pandangan bahwa sesuatu yang
tumbuh mempunyai rancangan dasar dan dari rancangan dasar itulah
bagian-bagiannya akan brmunculan, dan setiap bagian mempunyaipengaruh
tersendiri.
Prespektif Kognitif (Jean Piaget)
Seorang
anak tidak dikendalikan insting ataupun “dicetak” oleh pengaruh lingkungan. Ia
seorang pengostruk (contructivisit), yaitu
seorang penjelajah aktif, selalu ingin
tahu, selalu menjawab tantangan lingkungan sesuai dengan interpretasi
(penafsiran) tentang cirri-ciri esensi yang ditampilkan lingkunga.
Kontruksi anak tentang realitas
(Interpretasinya tentang lingkungan) bergantung pada tingkat perkembangan
kognitif nya. Sehingga, perkembangan kognitif anak ditentungan oleh dua hal
berikut :
a. Cara anak menanggapi kejadian-kejadian
yang ada dalam lingkungannya.
b. Efek dari kejadian-kejadian tersebut
terhadap perkembangan anak tersebut.
Anak
yang usianya berbeda akan membuat kesalahan berbeda pula dalam menjawab tes
intelegensi. Selanjutnya, Piaget menyimpulkan bahwa intelegensi merupakan atribut yang multidimensional.[2]
1. Intelegensi
Menurut
pandangan Piaget :
a. Intelegensi adalah suatu fungsi
kehidupan yang mendasar yang membantu organisme untuk menyesuaikan diri dengan
lingkungannya,
b. Satu-satunya tujuan aktifitas
intelektual adalah untuk mencapai keseimbangan,
c. Lingkunag adalah suatu tempat yang
menarik dan penuh dengan berbagai rangsangan baru yang tidak segera dapat
dipahami anak aktif dan penuh rasa ingin tahu,
d. Intelegensi adalah suatu atribut yang
sangat majemuk, yang terdiri atas tiga komponen yang saling berhubungan yaitu,
isi intelegensi, struktural, kognitif, dan fungsi intelektual.
2. Tingkat perkembangan kognitif
Tingkat
perkembangan kognitif manusia terdiri atas empat metode, yaitu:
a. Sensori motor (+ sejak lahir hingga usia
2 tahun),
b. Praoprasional (+ usia 2-7 tahun),
c. Oprasional konkret (+usia 7-11 tahun),
d. Oprasional formal (+ usia 11-15 tahun)
4. Prespektif
belajar sosial
Menurut
Bandura (1973) individu mengamati prilaku tertentu melalui empat fase yaitu:
a. Fase memperhatikan (Attention)
Fase ini
merupakan dasar dari Proses pengamatan Perkembangnya perhatian individu
terhadap suatu objek dalam hal ini perilaku dari modal tertentu berkaitan erat
dengan daya ingatnya. Dalam hal ini seberapa jauh kapasitas individu untuk
mengingat berbagai stimulus yang diterimanya pada suatu pihak perkembangannya
perhatian disebabkan pula oleh adanya kebutuhan dan minat pribadi. Semakin erat
hubungannya antara kebutuhan dan minat dengan perhatian, semakin kuat daya
tariknya terhadap perhatian tersebut.
b. Fase menyimpang (Retention)
Fase ini
merupakan kelanjutan dari fase perhatian. Individu memperhatikan, mengingat,
dan minyimpan stimulus yang diterimanya dalam longterem memori, dalam bentuk
simbol-simbol memori.
c. Fase memproduksi
Fase ini berkaitan dengan kemampuan
motorik individu dalam mereproduksi perilakunya secara tepat. Semua hasil
pengamatan tersebut dicamkannya dalam longterem memori, untuk sewaktu-waktu
direproduksi ulang.
d. Fase motivasi (Motivation)
Apa bila
motivasinya kuat untuk mewujudkan perilaku tersebut dalam bentuk nyata, ia akan
melakukannya. Sering motivasi berhubungan dengan ada tidaknya faktor penguat
terhadap perilaku tersebut, baik bentuk pemberian pujian maupun hadiah.
5. Prespektif
Humanistik
Penganut
teori ini perpandangan bahwa setiap manusia mempunyai dorongan yang sangat kuat
untuk meralisasikan seluruh potensi yang dimilikinya, mencapai aktualisasi
diri. Mereka juga berpandangan holistik terhadap perkembangan manusia, yaitu
manusia itu harus dilihat sebagai lebih dari sekedar sekumpulan dorongan,
insting, atau pengalaman masa lalu. Bagi mereka, setiap orang adalah manusia
seutuhnya, unik dan patut dihargai. Pandangan ini dikenal pula sebagai
eksistensialisme dan psikologi fenomenologi, yaitu pandangan yang mencoba untuk
memahami perilaku dari sudut pandang perilaku itu sendiri, bukan dari sudut
pengamat,
Komentar
Posting Komentar