Pengertian Khulafaurasyidin
Pengertian Khulafaurasyidin
Secara
harfiyah kata khalifah berasal dari kata khalf yang berarti wakil, pengganti,
dan penguasa. Selanjutnya muncul istilah khilafah yang dapat di artikan sebagai
institusi politik islam, yang bersinonim dengan kata imamah yang berarti
pemerintahan.
Ibn Khaldun
berpendapat bahwa khilafah adalah tanggungg jawab umum yang sesuai dengan
tujuan syara’ yang bertujuan untuk mewujudkan kemaslahatan dunia dan akhirat
bagi umat. Pada hakekatnya, khilafah merupakan pengganti Nabi Muhammad SAW
dalam urusan agama dan urusan politik ke duniaan.
Selanjutnya
muncul istilah khilafah dan bentuk jamaknya yaitu khulafa’ atau khalaif yang
berarti orang yang menggantikan kedudukan orang lain, dan seseorang yang
mengambil alih tempat orang lain sesudahnya dalam berbagai persoalan.
Adapun kata
al-Rasyidun secara harfiah berasal dari kata rasyada yang artinya cerdas, jujur, dan amanah. Dari kata rasyada kemudian berubah menjadi kata
benda atau kata nama rasyid dan
jamaknya rasyidun yang beraqrti orang-orang yang cerdsas, jujur, dan amanah.
Dengan demikian secara sederhana Khulafaur Rasyidun adalah para pimpinan yang
menggantikan kedudukan pimpinan sebelumnya dan menunjukan sikap yang cerdas,
jujur, dan amanah.[1]
Di dalam
sejarah Khulafaur Rasyidun di gunakan untuk para pimpinan setelah wafatnya
Rasulullah SAW. Mereka itu adalah Abu Bakar yang memerintah selama 2 tahun,
Umar ibn khatab yang memerintah selama 10 tahun (13 SD 23 H/634-644), Usman ibn
Affan yang memerintah selama 12 tahun (644-655), dan Ali ibn Abi thalib yang
memerintah selama 6 tahun.
A.
Biografi
Abu Bakar Ash-Shiddiq
Nama lengkap Abu
Bakar Ash Shiddiq adalah Abu Bakar Abdullah bin Abi Quhafah bin utsman bin Amr
bin Mas’ud bin Taim bin Murrah bin Kaab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr At-Taimi
Al-Quraisy. Sebelum masuk islam, beliau bernama Abdul Ka’bah (hamba
ka’bah). nasab beliau bertemu dengan
nabi pada kakeknya yang bernama Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay, setelah masuk islam
Rasulullah SAW mengganti namanya menjadi Abdullah bin Abu Quhafah At-Tamimi. Selain itu, nabi Muhammad SAW juga memberi
gelar Ash-Shiddiq (yang berkata benar) setelah beliau membenarkan dan
mempercayai peristiwa Isra’ Mi’raj yang di ceritakan oleh nabi Muhammad SAW
kepada para pengikutnya, dan dari situlah beliau lebih dikenal dengan nama Abu
Bakar Ash-Shiddiq. Beliau lahir dua tahun setelah nabi Muhammad SAW yaitu pada
tahun 573 M di lingkungan suku yang sangat berpengaruh dan suku yang melahirkan
tokoh-tokoh besar yaitu Bani Ta’im.
Menurut beberapa catatan sejarawan islam, beliau adalah seorang
pedagang, hakim dengan kedudukan tinggi, seorang yang terpelajar, serta di
percaya sebagai orang yang bisa menafsirkan mimpi. Ayahnya bernama Utsman (Abu Quhafah) bin Amir
bin Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taym bin Mun’ah bin Ka’ab bin Lu’ay, yang
berasal dari suku Quraisy. Sedangkan ibunya bernama Ummu Al Khair Salmah binti
Sahr bin Kaab bin Sa’ad bin Taym bin Murrah. Garis keturunan mereka
bertemu pada kakeknya, yaitu Ka’ab bin Sa’ad.[2]
Abu Bakar merupakan orang yang pertama kali masuk islam atau
Assabiqunal Awalun. baginya, tidaklah sulit untuk mempercayai ajaran yang
dibawa nabi Muhammad, di karenakan sejak kecil beliau telah mengenal keagungan
nabi Muhammad SAW. Setelah masuk islam, beliau tidak segan untuk menumpahkan
segenap jiwa dan harta bendanya untuk kepentingan islam. tercatat dalam
sejarah, beliau pernah membela nabi tatkala nabi disakiti oleh orang-orang
Quraisy, menemani Rasul hijrah, membantu kaum yang lemah dan memerdekakannya,
setia dalam setiap peperangan dan lain-lain.
Pengorbanan Abu Bakar dalam Islam tidak dapat di ragukan lagi.
Beliau juga pernah di tunjuk olehh nabi Muhammad SAW untuk menggantikannya
menjaadi Imam shalat ketika nabi sakit. Nabi Muhammad pun wafat tak lama
setelah kejadian tersebut. Sebelum nabi wafat, beliau tidak memberi tahu siapa
yang akan menggantikannya kelak, maka pada saat jenazah nabi belum dimakamkan
, diantara umat islam ada yang mengusulkan untuk cepat-cepat memikirkan
pengganti nabi. Itulah perselisihan pertama yang terjadi pasca nabi wafat,
perselisihan tersebut berlanjut ke persselisihan kedua di Saqifah Bani Sa’adah,
pada saat kaum Anshar menuntut di adakannya pemilihan Khalifah. Sikap kaum
Anshar ini menunjukkan bhwa mereka lebih memiliki rasa kepedulian dalam hal
berpolitik dibandingkan dengan kaum Muhajirin. Dalam hal ini, setidaknya ada
persaingan di kantara kaum Anshar, Muhajirin dan Bani Hasyim.[3]
B. Pendidikan pada masa Khalifah Abu bakar Ash-Shiddiq
Setelah terjadinya
perselisihan antara kaum Anshar dan kaum Muhajirin di Saqifah Bani Sa’adah,
maka diputuskanlah Abu bakar menjadi Khalifah. Beliau menjadi Khalifah pertama umat islam pada tahun
632-634 M. Pada masa awal kekhalifahan , Abu
Bakar mengahadapi masalah umat yang cukup serius yang harus
segera di selesaikan dengan tegas dan pasti.[4]
Masa pemerintahannya yang hanya dua tahun
itu di gunakan untuk melakukan konsolidasi, penertiban dan pengamanan
sebagai akibat dari munculnya kelompok yang tidak lagi mau tunduk pada ajaran
islam (murtad), ada yang
mendeklarasikan sebagai nabi, ada yang menganggap dengan meninggalnya
Rasulullah berarti perjanjian yang di buat dengan nabi Muhammad dengan
sendirinya berakhir, ada yang menentang Abu Bakar dan ada yang tidak amu
membayar zakat.[5]
Adapun sebab-sebab mereka berbuat demikian setelah wafatnyya nabi Muhammad SAW, antara lain ;
1.
Motivasi
islam mereka bukan karena kesadaran dan keinsyafan iman yang sungguh-sungguh,
tapi karena pertimbangan politik dan ekonomi.
2.
Rasa
kesukuan yang mendalam jauh sebelumnya
telah di berantas oleh Rasulullah. Mereka menganggap bahwa agama islam telah
menempatkan mereka di bawah kekuasaan bangsa Quraisy.
3.
Kesalahan
atau penyimpangan menafsirkan dan memahami ayat-ayat Al-Qur’an dan
menimbulkan anggapan, bahwa dengan wafatnya Rasulullah mereka tidak lagi
mempunyai kewajiban melaksanakan ajaran agama islam.
Dalam menghadapi kaum pemberontak, terlebih dahulu Abu Bakar
mengirim surat kepada mereka dengan maksud untuk menyadarkan mereka kembali
pada jalan yang benar . tetapi tindakan yang di lakukan Abu bakar di tentang
oleh mereka karena para pemberontak tersebut tetap membangkang.[6] Namun
berkat pengalaman, senioritas, kesungguhan,
dan dukungan dari para kelompoknya, akhirnya beliau dapat menyelesaikan semua masalah tersebut.[7]
Setelah kaum
pemberontak berhasil di tumpas maka tugas pendidikan memegang peranan penting.
Sikap tegas dan pasti dari kepemimpinan Abu Bakar, di dorong oleh ketakwaan
yang menunjukan adanya sifat-sifat pemimpin yang jujur dan penuh dedikasi,
terhadap tugas kewajibannya yang terpadu dalam jiwa seorang pendidik dan
sebagai seorang bapak.
Keberhasilan
Abu Bakar menumpas kaum pemberontak dan pengiriman ekspedisi tentaranya ke
Persia, membuka kemungkinan ekspedisi dakwah dan pendidikan agama Islam.
Setelah kemenangan operasi militer, kemudian melakukan konsolidasi dan di
lanjutkan dengan operasi territorial. Terhadap penduduk yang baru di kalahkan,
di adakan pendekatan-pendekatan persuasif sesuai dengan sifat dan watak dari
ajaran islam sendiri.
Operasi
territorial ini sangat menguntungkan kepentingan pengamanan wilayah dan
kepentingan dakwah, serta pelaksanaan pendidikan. Kemenangan operasi militer,
sangat erat hubungannya dengan kondisi yang terjadi pada bangsa yang di
kalahkan. Para pemimpinnya sudah tidak memiliki sifat kepemimpinan dan
wibawanya telah jatuh., demikian pula para pemimpin agamanya tidak mampu
mengendalikan kerohanian rakyatnya. Oleh karena itu, kekuatan militer bukanlah
faktor yang menentukan dalam usaha perluasan dan penyebaran islam. Sifat
toleransi agama islam, jelas di gambarkan dalam Al-Qur’an dan di contohkan oleh
Rasulullah SAW terhadap mereka yang baru kembali dari kemurtadannya,
membutuhkan pemeliharaan dan pembinaan yang efektif agar mereka tidak lagi
mengulangi kemurttadannya.
Dalam
operasi penumpasan kaum pemberontak di Yamammah, banyak kaum muslimin yang
gugur, di antaranya terdapat 73 orang sahabat dekat Rasulallah dan para hafidz
Al-Qur’an,Oleh karena itu, Umar bin Khattab menyarankan kepada khalifah Abu
Bakar agar segera di adakan usaha untuk mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an. Dari
pengalaman ini di khawatirkan akan bertambah banyak kehilangan para huffadz
yang akan mengakibatkan timbulnya perselisihan di kalangan umat mengenai
Al-Qur’an. Saran sahabat Umar ini kemudian di terima oleh khalifah Abu Bakar dengan
pertimbangan manfaat dan kegunaannya bagi kemaslahatan ummat di kemudian hari.
Kemudian, beliau pun menugaskan kepada Zaid bin Tsabbit untuk mengumpulkanAl-Qur’an
. demikian ijtihad Abu Bakar menjadi kenyataan dan terperiharalah Al-Qur’an itu
dari kerusakan, dengan itu pulalah maka materi dasar dari pendidikan islam pun
terjaga keasliannya.
Jarak
sejarah antara nabi dan Abu Bakar masih sangat dekat, karena itu peristiwa dan
kejadian-kejadian yang terjadi pada masa nabi masih jelas terasa dan masih kuat
mempengaruhi ingatan. Kegiatan mengajarkan hadits lebih meningkat, selain itu
kepentingan pemeliharaan perbendaharaan hadis lebih juga sangat di butuhkan
untuk kepentingan dasar penafsiran Al-Qur’an
dalam usaha memperoleh suatu ketetapan hukum. Dari kegiatan ini
berkembanglah ilmu hadis dengan cabang-cabangnya.
Pendidikan
pada masa khalifah Abu Bakar masih seperti pada zaman nabi, baik dari segi
materi maupun lembaga pendidikannya. hanya usaha perluasan dan pengembangan
ilmu sudah mulai tampak. Tempat mengajar masih di utamakan di masjid-masjid,
duduk berhalaq dan pusat pembelajaran pada masa ini adalah di Madinah ,
sedangkan yang bertindak sebagai Guru-gurunya terdiri dari sahabat-sahabat
Rasul yang terdekat, dari merekalah umat menimba ilmu dan agama. Selain itu,
pelajaran membaca dan menulis pun tidak ketinggalan, sebagaimana Rasulullah
telah memberikan contohnya. Pelajaran asing mulai di rintis untuk memenuhi
kebutuhan komunikasi dengan penduduk yang tidak berbahasa Arab.
Masa
pemerintahan khalifah Abu Bakar tidak lama, tapi beliau telah berhasil
memberikan dasar-dasar kekuatan bagi perjuangan perluasan dakwah dan pendidikan
Islam. Jiwa dan pribadinya sangat dekat dengan nabi, berkat pergaulannya yang
akrab sejak sebelum Muhammad di angkat menjadi Rasul.[8]
C. Pendidikan dan sistem pembelajaran Masa Lalu.
Lembaga islam yang di lakukan Rasulullah pada fase makkah ada dua macam yaitu rumah
Arqom Bin Arqom dan Kuttab. Kurikulum
pendidikan islam pada masa Rasulullah adalah al-Qur’an, yang Allah wahyukan
sesuai dengan kondisi dan situasi. Dalam prakteknya pendidikan islam tidak
hanya di tuntut sebagai pendidikan yang logis dan rasional tetapi juga secara
fitrah dan fragmatis. Inti sari pendidikan yang di lakukan Nabi adalah:
1) Pendidikan keimanan
2) Pendidikan ibadah
3) Pendidikan akhlak
4) Pendidikan kesehatan jasmani
5) Pendidikan kemasyarakatan
untuk menciptakan suasana kondusif dan
menyenangkan dalam mengajarkan para sahabatnya Rasulullah SAW menggunakan
macam-macam metode yaitu: metode ceramah, metode3 eksperimen, metode dialog,
metode demostrasi, dan metode diskusi atau Tanya jawab.
Dalam menjalankan misi pendidikan, Nabi SAW juga mengevaluasi
sahabat-sahabatnya untuk mengetahui kemampuan para sahabat dalam memahami
ajaran agama atau dalam mengerjakan tugas adapun sistem pengukuran yang di
gunakan nabi sendiri tidak seperti zaman modern sekarang ini. Namun,
prinsip-prinsipnya menujukan sistem measurement yang juga terdapat dalam hadits
Nabi.
Berdasarkan tinjauan historis di atas, pendidikan yang di terapkan
rasulullah merupakan pendidikan yang telah berhasil karena telah sukses
mencapai tujuan utamanya.
D. Pendidikan dan Sistem pembelajaran Masa Kini
Pendidikan dalam masyarakat modern atau masyrakat yang
tengah bergerak kea rah modern pada dasarnya berfungsi untuk memberikan kaitan
antara anak didik dan lingkungan sosiokulturnya yang berubah. Dalam banyak hal,
pendidikan secara sadar di gunakan sebagai instrument untuk perubahan dalam
sistem politik dan ekonomi sebagai lembaga sosialisasi, pendidikan adalah
wahana bagi integrasi anak-anak didik ke dalam nilai-nilai pokok atau nasional
yang dominan.
Moderni sasi yang mengandung pikiran, aliran, gerakan,
dan usaha untuk mengubah paham, adat istiadat, institusi lama dan sebagainya.
Agar semua itu dapat di sesuaikan dengan pendapat-pendapat dan keadaan baru
yang timbul oleh kemajuan serta teknologi modern. Jadi, modernisasi pendidikan
islam adalah proses penyesuaian pendidikan islam dengan kemajuan zaman.
DAFTAR PUSTAKA
Supriyadi, Dedi.2008.Sejarah Peradaban Islam.Bandung:PUSTAKA SETIA
Soekarno.2001.Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam.Bandung:ANGKASA
Nata, Abuddin.2011.Sejarah Pendidikan Islam.Jakarta:KENCANA
Komentar
Posting Komentar